Pokjaluh Kabupaten Boyolali berpose didepan kantor Kemenag

Bekerja profesional mengabdi kepada masyarakat

Pertemuan Ustadz-ustadzah MADIN

Pak Masud, S.Ag menyampaikan pertanyaan kepada narasumber

Seminar ESQ

Berpose bersama Narasumber Seminar ESQ

Pelantikan Pokjaluh dan FKPAI

Pelantikan Pengurus Pokjaluh dan Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam Kabupaten Boyolali oleh Kepala Kankemanag Kabupaten Boyolali

Anjangsana Keluarga POKJALUH

Untuk menjalin keakraban antara keluarga penyuluh mengadakan anjangsana setiap tahunnya.

Rabu, 04 Mei 2016

BIMBINGAN AKHLAK DALAM KELUARGA AWAL GENERASI YANG BERKUALITAS



Oleh. Drs. H. Ali Munawar

BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
            Kehidupan modern sekarang ini mengakibatkan terjadinya pergeseran peradaban yang jika tidak kita sikapi dengan bijaksanaan dan berpedoman kepada ajaran Islam maka kita dapat tergelincir ke dalam permasalahan-permasalahan yang rumit dan mengakibatkan kita berada dalam lubang kehancuran.
          Generasi muda dan anak-anak penerus bangsa apabila tidak kita bimbing dengan penuh kesabaran dan pengetahuan agama maka apa yang akan terjadi pada nasib generasi muda dan anak-anak kita kelak.
Kita sebagai orang tua berkewajiban secara penuh untuk membimbing anak-anak muda generasi penerus bangsa agar menjadi anak-anak generasi bangsa yang agamis yang mampu menghadapi jaman modernisasi dengan penuh tanggug jawab dan sesuai dengan ajaran-ajaran agam islam.
Dalam sebuah ayat Al-Qur’an Allah SWT berfirman
وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا ٩
       Dan hendaklah kamu takut kepada Allah sekiranya kamu meninggalkan dibelakang kamu keturunan kamu yang yang lemah dan bertaqwalah kamu kepada Allah dan berkatalah kamu dengan perkataan yang benar.

                 Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa kita hendaknya takut jika kita meninggalkan anak-anak kita dan generasi penerus bangsa kita dalam keadaan lemah baik dalam keadaan lemah pola pikir dan lemah dalam hal bimbingan dan pembinaan agama, maka membimbing dan membina anak-anak dan generasi penerus perjuangan bangsa adalah kewajiban kita bersama.
      Sekarang ini sangat minim sekali tempat-tempat kegiatan keagamaan bagi anak-anak di luar sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar Al-Qur’an bagi anak-anak juga sangat minimnya jumlah atau prosentase pendidikan bagi anak dalam jam-jam pelajaran sekolah maka dari itu sangat memprihatinkan sekali dimana arus modernisasi sudah terlalu jauh berkembang tapi anak-anak kita generasi penerus perjuangan bangsa tidak mengimbanginya dengan mental agama yang baik sehingga pada akhir-akhir ini banyak terjadi kekerasaan seksual yang dilakukan oleh anak-anak padahal usia mereka masih berada dalam usia sekolah, adanya geng motor yang meresahkan warga dan berbuat kerusuhan.
       Dan tidak kalah mencengangkan akhir-akhir ini terjadinya tawuran pelajar yang mengakibatkan korban meninggal di manapun tidak di Jakarta juga terjadi kota Yogyakarta yang identik dengan kota pelajar. Ini mengindikasikan bahwa sudah  atau kurangnya penanaman modal agama bagi anak-anak generasi penerus perjuangan bangsa kita sehingga mereka berbuat brutal dan jauh dari ajaran-ajaran Islam lagi terjadinya, maka dari itu kita wajib mengerahkan tenaga dan pikiran kita untuk membimbing membina anak-anak generasi penerus perjuangan bangsa kita agar mereka dapat mengikuti perkembangan arus modernisasi tapi dengan dibarengi dengan mental agama yang kuat.

B.       Identifikasi masalah

Dari latar belakang masalah yang telah dijabarkan diatas kita dapat mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1.      Keluarga merupakan awal terbentuknya generasi muda yang kuat dan tangguh
2.      Sekarang ini banyak sekali keluarga / orang tua tidak memberikan pendidikan / bimbingan agama bagi anak-anaknya
3.      Banyak terjadinya perbuatan-perbuatan amoral yang dilakukan anak-anak generasi penerus bangsa

C.      Rumusan Masalah

       Dari latar belakang masalah diatas dapat kita rumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.    Bagaimanakah bimbingan akhlak dalam keluarga sebagai awal generasi yang berkwalitas dapat tercapai?
2.    Usaha-usaha apakah yang dapat kita capai untuk mewujudkan   keluarga yang yang dapat menciptakan generasi yang berkwalitas?
3.    Bagaimanakah peranan pemerintah untuk memberikan bimbingan dan  pembinaan bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
D.           Tujuan
     Tujuan dibuat makalah ini adalah :
1.      Untuk memberikan pemahaman dan pengertian kepada masyarakat betapa pentingnya keluarga menjadi awal pendidikan/bimbingan akhlak bagi putera puteri mereka untuk menyongsong kehidupan agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
2.      Untuk memberikan wawasan dan kesadaran masyarakat bahwa bimbingan kepada anak yang paling penting adalah bimbingan akhlak yang dimulai dari sejak dini.
3.      Untuk memberikan masukan kepada masyarakat dan pemerintah untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan keagamaan dan kegiatan-kegiatan sosial keagamaan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    KERANGKA TEORITIK
Menurut M.Yusuf Qardhawi, Bimbingan/pendidikan diartikan Bimbingan/pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilannya.[1]
Sedangkan menurut Zakiyah Darajat dkk dalam bukunya berjudul ilmu bimbingan/pendidikan Islam “Bimbingan Islam suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak  agar nantinya dapat memahami apa yang terkandung di dalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuannya dan pada akhirnya dapat mengamalkannya serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhiratnya kelak”.[2]
Keluarga adalah bentuk masyarakat kecil yang terdiri dari beberapa individu yang terikat oleh suatu keturunan yakni kesatuan antara ayah, ibu dan anak yang merupakan kesatuan kecil dari bentuk-bentuk kesatuan masyarakat.[3]
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa bimbingan/ pendidikan akhlak Islam adalah suatu bimbingan yang ditujukan kepada anak agar nantinya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan baik dan benar menuju keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Jadi Bimbingan Islam yang dimaksud di sini adalah bimbingan yang didalamnya berusaha membimbing jasmani dan rohani anak didik sesuai dengan ajaran Islam untuk difahami, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga akan terbentuk keluarga Islam guna kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
II. Dasar dan Tujuan Bimbingan Akhlak
1. Dasar Bimbingan Akhlak
         Agama merupakan dasar utama yang dijadikan sebagai sandaran mengapa pendidikan akhlak bagi anak itu sangat urgen. Karena anak sebagai salah satu anggota keluarga yang harus dijaga, dipelihara agar terhindar dari api neraka, melalui bimbingan didikan akhlak kepadanya diharapkan terwujud anak yang baik, saleh atau salihah sehingga ia terbebas dari api neraka. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang dijadikan sumber hukum pertama dalam ajaran Islam. Surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا
      “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ...“ (Q.S At-Tahrim : 6 )[4]
     Disini anak sebagai buah hati, tidak hanya sebagai penyenang hati atau menghilangkan kesusahan namun anak merupakan amanah Allah SWT untuk dititipkan pada ayah dan ibu. Sebagai orang tua wajib mendidiknya, anak yang selalu bertakwa kepada Allah SWT dan selalu beramal soleh baik ketika dalam keadaan senang maupun susah, baik sendiri maupuan orang banyak. Sehingga dengan akhlak yang baik akan disegani oleh semua anggota masyarakat dan akat menjunjung tinggi nama baik keluarga.
                  Bimbingan akhlak bila dikaitkan dengan pendidkan dituangkan dalam undang-undang,
Adapun dasar pendidikan akhlak dalam pelaksanaannya disebutkan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) No. 20 tahun 2003, pada bab II pasal 3 dinyatakan bahwa :
“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”[5]
            Dalam  psikologi perkembangan dijelaskan bahwa pada awal sampai akhir masa kanak-kanak emosinya sangat kuat. Masa ini merupakan saat ketidakseimbangan karena anak-anak “keluar dari fokus” dalam arti bahwa ia mudah terbawa ledakan-ledakan emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan. Begitu juga perkembangan moral pada awal masa kanak-kanak masih dalam tingkat yang rendah. Hal ini disebabkan karena perkembangan intelektual anak-anak belum mencapai titik dimana ia dapat mempelajari atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah. Ia juga belum mempunyai dorongan untuk mengikuti perarturan-peraturan karena belum mengerti manfaatnya sebagai anggota kelompok masyarakat.[6]
                Dengan adanya pernyataan di atas, maka pendidikan akhlak mulai dari awal (dalam keluarga) sampai akhir masa anak-anak harus diutamakan. Pendidikan anak usia 0 – 7 tahun pada dasarnya adalah berupa pembentukan kebiasaan yang baik. Mulai dari bangun tidur hingga waktu tidur berikutnya, anak-anak memperoleh dari apa-apa yang dilihat, dipikir dan dikerjakannya. Dengan demikian jika dalam kesehariannya ia melihat yang baik, melalui perlakuan yang ramah dan pembiasaan untuk mengerjakan yang baik, diperkirakan akan menyebabkan terbiasa kepada hal-hal yang baik pula.[7]
               Membimbing akhlak anak itu sangat penting dan sangat utama agar terjaga dari kesengsaraan dunia dan kesengsaraan akhirat. Supaya bertahan sebagai makhluk “ Ahsani Taqwim “ (sebaik-baik kejadiannya).

1.      Tujuan Bimbingan Aklak

Tujuan adalah suatu perubahan yang sangat diharapkan oleh seseorang setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.
     H. Mahmud Yunus mengatakan bahwa tujuan pendidikan akhlak bagi anak adalah membentuk putra-putri yang berakhlak mulia, berbudi luhur, bercita-cita tinggi, berkemauan keras, beradap sopan santun, baik tingkah lakunya, manis tutur bahasanya, jujur dalam segala perbuatannya, suci murni hatinya.[8]
Menurut al-Ghazali bahwasanya tujuan latihan moral sebagai wujud pendidikan akhlak bagi anak ialah :
a.    Membawa jiwa kembali menempuh jalan pertengahan, Yang dimaksud pertengahan di sini adalah jalan yang diperintahkan syari’ah.[9]
b.    Untuk menenamkan benih pekerti tertentu yang memungkinkan mereka jika dewasa nanti menghayati kehidupan yang bahagia dan saleh yang akan menjamin kebahagiaan di akhirat kelak.
c.    Melindungi anak dari bahaya api di dunia dan perlu lagi menyelamatkan anak dari api neraka di akhirat.
3.  Materi bimbingan akhlak
             Sebagaimana telah kita ketahui bahwa akhlak merupakan perilaku  dalam kerangka yang luas, berakhlak berarti “hidup untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. Artinya, hidup berguna bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia dan alam sekiotarnya. Bentuk yang kongkrit adalah hormat dan santun kepada orang tua, guru, sesama manusia, terutama pada penciptanya yaitu Allah SWT dan para utusannya.
              Sebagai pegangan dalam mendidik akhlak kepada anak dalam keluarga, dan keturunannya perlu ditanamkan :
a. Ahklak anak terhadap Khaliq (Allah SWT)
Akhlak kepada Allah SWT dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada tuhan sebagain Kholiq.[10] Sedangkan titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah.[11]
Banyak cara yang dapat dilakukan dalam berakhlak kepada Allah. Dalam hal ini bentuk nilai-nilai yang perlu ditanamkan dalam keluarga terhadap anak-anak / putra putri terutama hubungannya berakhlak kepada Allah antara lain :
1). Taqwa kepada Allah
     Tugas utama orang tua untuk menjadikan anak-anaknya atau putra-putri sebagai hamba yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT, dapat dilakukan dengan cara mengajak mereka melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
     Kemuliaan seseorang disisi Allah yang paling takwa, sebagai mana disebutkan dalam Al-Qur’an surat al_Hujurat ayat 13 yang berbunyi :
إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣
.“.. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”[12]

2). Cinta dengan ikhlas kepada Allah SWT
     Dalam mendidik anak-anak agar selalu mencintai Allah sebagai khaliknya maka cara yang dilakukan adalah mengenalkan dan mengajak mereka untuk selalu menyebut atau membaca kalimah-kalimah Allah seperti bacaan :
Tasbih   : (Maha suci Allah)
Tahmid  : (segala puji bagi Allah)
Tahlil     : (Tiada Tuhan selain Allah)
Takbir    : ( Allah maha besar)
Tabarri : (Tiada daya kekuatan melainkan pertolongan Allah).
        Cara lain dengan mengajak mereka untuk memikirkan segala karunia Allah SWT. Seperti diberi mata untuk melihat isi dunia, bernafas yang gratis dan memikirkan lingkungan alam sekitar bahwa semua itu adalah kekuasaan Allah yang perlu disukuri dan dijaga sebaik mungkin. Allah memerintahkan akan hal itu melalui firmannya al-Qur’an surat al-A’raf ayat 74;


 ... ( (#ÿrãà2øŒ$$sù uäIw#uä «!$# Ÿwur (#öqsW÷ès? Îû ÇÚöF{$
فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ٧٤
# šúïÏÅ¡øÿãB ÇÐÍÈ
 “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan”.[13]
3).  Husnudzan  (Berbaik sangka)  kepada Allah
4).  Bersyukur dan Qona’ah atas nikmatnya.
5). Khusyu dan Tadlorru’
6).  Sabar dan tawakkal kepada Allah
7).  Malu (Haya’) kepada Allah
          b. Akhlak  terhadap sesama manusia meliputi :
    1).  Akhlak kepada Rasulullah saw
         Rasulullah yakni Nabi Muhammmad saw sebagai manusia yang sempurna diutus untuk menjadi pengarah, pembimbing umat manusia menuju jalan Allah serta sebagai suritauladan untuk dicontoh.
              Dalam hal ini sebagai orang tua atau pendidik wajib mengenalkan pada anak bahwa siapakah Rasulullah itu dan menanamkan pada diri anak agar berakhlak yang baik khusususnya pada Rasulllah dengan melaksanakan antara lain :
a). Menerima ajaran yang dibawanya, sebab Allah menganjurkan melaluifirmanNya  dalam al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 7 :
!$# (
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ

Artinya : ... apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah....(Q.S al-Hasyr : 7)[14]
b)  Mengikuti sunahmya, sebagai umatnya agar diakui oleh beliau. Hendaknya mengikuti jejaknya baik dalam ibadah maupun mencontoh akhlaknya.
c).  Mengucapkan salam dan shalawat kepada Rosulullah.
     Terhadap anak atau siswa diajarklan untuk cinta kepada Allah, mencintai rosulluh, wujud dari cinta tersebut anak selalu diajak mengucapkan salam dan shalawat kepada beliau, sehingga nanti mendapat syafa’at di hari kiamat. Allah berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 56 :
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
Artinya :  Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Q.S al-Ahzab : 56)[15]
             Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat, dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan : Allahumma shalli ala Muhammad. dengan mengucapkan perkataan seperti : Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai nabi.
2)   Akhlak anak kepada kedua orang tua
Islam mengajarkan prinsip-prinsip akhlak yang p[erlu ditunaikan oleh anak kepada orang tuanya, antara lain :
a.       Menghormati
Anak sudah semestinya mempunyai kewajiban terhadap orang tua didalam ajaran Islam menghormati orang tua adalah kewajiban.
Sebagaimana Firman Allah dalam surat: Al Isra’ : 23-24
۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣ وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤
“ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan    menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, jika sampai kepadamu usia lanjut salah satu dari keduanya atau kedua-duanya maka jangan mengucapkan perkataan ah dan jangan membentak keduanya dan berkatalah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia. Dan rendahkan olehmu terhadap mereka dan katakanlah Ya Tuhan kami, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka mendidikku sejak kecil”
b). Patuh : Mematuhi semua perintah orang tua. Patuh di sini berbakti dan  bersyukur kepada ibu bapak, namun tidak boleh mematuhi perintah keduanya supaya mempersekutukan Allah atau hal-hal yang melanggar syariat
c). Ihsan : berbuat baik kepadanya, memberikan kesenangan kepada keduanya seperti memberi nafkah dan keperluan lain. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 23
           
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,”[16]
            mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.
d).Perkataan yang lemah lembut : Memenuhi panggilannya, Berbicara kepada keduanya dengan suara lirih (lembut), tidak boleh membantah. Hal ini diperingatkan Allah dalam firmannya al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 23 :
Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”[17]
e). Merendah diri : Sebagaimana diperintahkan Allah melalui firman-Nya dalam al-Qur-an Surat al-Isra’ ayat 24 :

    Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan
 f). Berterima kasih kepada kedua orang tua terutama pada ibu yang bersusah   payah melahirkan, menyusui dan memberi kasih sayang.
 g). Memohon rahmat dan maghfiroh

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil"[18].( Al Isro’ ; 24)
3). Akhlak Anak kepada Tetangga dan Masyarakat
          Hal-hal yang yang perlu ditanamkan antara lain :
a)      Tidak menyakiti tetangga
b)      Melindungi Tetangga
c)      Berbuat baik kepada tetangga
d)     Ikut menanggung penderitaan tetangga
e)      Mengucapkan salam ketika bertemu
f)       Menjenguknya ketika sakit
g)      Menolongnya ketika susah.
h)      Memenuhi undangannya.
i)        Memberikan ucapan selamat ketika mendapat anugerah,  kebahagiaan serta    pada hari raya sebagaimana layaknya di masyarakat.

4).   Akhlak anak terhadap diri sendiri
     Bentuk-bentuk akhlak yang perlu ditanamkan  antara lain :
     a). Menjaga lahir dan batin
     b). Menjaga batin jangan musrik
     c). Harus menutupi keaiban diri.
d). Mempunyai sifat shiddiq (benar), amanah (terpercaya),  adil, jujur.
     e). Bergaul dengan orang yang baik akhlaknya.
     f). Menjauhkan sifat-sifat jelek seperti : Pemalas, penakut, putus  asa,  riya’ takabbur dan lain-lainnya.

                                                          BAB III
PEMBAHASAN
  
                   Dalam konteks dunia global konsepsi dan persepsi tentang rumah tangga/keluarga telah mengalami pergeseran dan orientasi dan interpretasi. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh era globalisasi yang terlalu sarat dengan transformasi yang bersifat material dan ekonomis bahkan tidak jarang terjadi keluarga sakinah yang semestinya religius mengalami distorsi dan ambivalen
            Menurut alvin Toffler diantara masalah kejutan masa depan dalam kehidupan masarakat modern ialah munculnya gejala keluarga yang berantakan atau keluarga yang berpecah-pecah. Gejala drama keluarga ini ditandai antara lain oleh gerombolan anak-anak nakal yang kian meningkat, ratusan ribu remaja yang lari dari rumah, kehidupan suami istri yang terombang-ambing dan terlibat
           Dalam konflik yang serius antara komitmaen pada karir dan dengan tuntutan memelihara dan membesarkan anak-anak, keluarga inti yang semakin mengecil  dan cenderung individualistik karena kehawatiran yang tidak mampu untuk merawat anak dan melanggengkan harmoni kehidupan, keterasingan dan kesepian dalam kehidupan para anggota keluarga akibat mobilitas yang berlebihan dan berbagai gejala inkonvensional dalam konflik keluarga yang melahirkan ancaman kepunahan kehidupan keluarga sebagaimana norma kehidupan keluarga tradisional.
             Dalam kehidupan modern yang sarat menimbulkan kejutan budaya, keluarga sesungguhnya memiliki fungsi sebagai basis penangkal perubahan yang negatif, keluarga menurut toffler dapat berfungsi laksana raksasa peredam kejutan yakni tempat berteduh setiap individu (anggota keluarga) yang babak belur dan kalah dalam pertaruhan hidup diluar.
Dalam bahasa Islam keluarga berfungsi sebagai surga atau taman indah tempat setiap anggota keluarga menikmati kebahagiaan hidup dan menjadi penangkal gelombang kehidupan yang keras, keluarga adalah tiang utama ykehidupan, karena dari situ sebuah komunitas peradaban dan budaya dibangun. Islam adalah agama yang menitik beratkan pada soliditas dan kekompakan kolektif masyarakat, akan tetapi kekompakan kolektif tidak dapat terbangun tanpa adanya kekuatan individual pada anggota masyarakat, pada setiap keluarga, pada setiap orang dalam keluarga itu. Disinilah peran pilar utama keluarga ayah dan ibu mutlak diperlukan,     ketika anggota keluarga ayah-ibu tidak dapat menjalankan fungsinya masing-masing. Islam telah menggariskan bahwa masing-masing anggota keluarga mempunyai peran penting dalam keluarga, seorang suami adalah nahkoda dari sebuah rumah tangga, hal ini sesuai dengan firman Allah:
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ
kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)” An-Nisa :34.

              Sedangkan istri memunyai peran yang penting dalam membantu dan mendampingi suami dalam mengurusi rumah tangga, termasuk dalam bimbingan dan pendidikan bagi anak-anaknya (al-ummu madrosatul ula)
              Dibawah ini kami ketengahkan beberapa langkah yang insya Allah membantu harapan orang tua untuk menciptakan anak-anak generasi penerus bangsa;
1.        Pemahamn orang tua atau anak yang sholeh harus benar-benar sesuai al-Qur’an dan As-sunnah,Rosululloh saw bersabda yang artinya:
 jika wafat anak cucu adam maka terputuslah amal-amalna kecuali 3 aitu: sodakoh jariyah ilmu yang bermanfaat dan doa  anak ang sholeh.
Dan untuk mencetak pribadi anak yang muslim harus ditanamkan pendidikan dasar  agama yaitu mengenai akidah sebagai pondasi dasar dari keyakinan dan keimanan yang tumbuh dalam jiwa seorang anak,dengan cara memperkenalkan pada ilmu keesaan Tuhan dengan sifat-sifatnya.
2.        Menciptakan lingkungan yang baik ke arah terciptanya anak yang sholeh ( lingkungan keluaga, lingkungan sekolah lingkungan masyarakat)
            Namun karena tuntutan jaman yang semakin menuntut maka tak jarang sekali kita jumpai para ibu dan seorang istri ikut bekerja keluar rumah ikut mencari nafkah bagi kelangsungan kehidupan berumah tangga,tapi yang dikorbankan adalah putera puteri mereka yang tidak sepenuhnya mendapatkan kasih saang, perhatian, bimbingan dari orang tua mereka sendiri.
            Kita sebagai hamba Allah yang kita diperintahkan untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan ketaqwaaan maka kita perlu untuk memikirkan hal tersebut, ketika para orang tua sudah disibukkan dengan pekerjaan mereka untuk mencari nafkah kita tidak berpangku tangan dengan hal itu. Kita berupaya dengan daya dan upaya agar anak-anak generasi perjuangan bangsa ini mendapatkan bimbingan keagamaan dengan kita mengadakan kegiatan keagamaaan yang ditujukan kepada anak-anak maupun generasi muda, juga seyogyanya para orang tua membantu mendukung pada kegiatan keagamaan (TPQ, Madrasah Diniyah dan Majlis Taklim) yang ditujukan kepada anak-anak maupun generasi muda.

BAB IV
KESIMPULAN

           Apabila dalam keluarga terdapat suasana keagamaan yang baik (Akhlak al karimah), dimana ibu dan  bapak hidup penuh kasih sayang dan menjaga sopan santun, sikap dan tindakan sesuai dengan agama, maka sejak lahir anak mendapatkan unsur-unsur positif melalui pengalaman yang dilihat dan didengarnya dari ibu dan bapaknya.
      Dengan akhlak  diajarkan sedini mungkin pada anak di dalam keluarga, maka akan terwujud keluarga sakinah, seperti yang dikemukakan oleh Abu Ridho : “ Faktor agama sangat menentukan keluarga sakinah, untuk mencapai keluarga hanya dengan satu caranya yakni dengan menciptakan kondisi rumah tangga yang religius”[1]
     Dengan demikian penulis berpendapat, untuk menjadikan anak yang berakhlak atau bermoral, menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela atau perbuatan-perbuatan yang menyalahi norma-norma agama adalah dengan bimbingan akhlak atau agama sejak dini dalam keluarga atau bapak dan ibunya.
      Runtuhnya intuisi keluarga ternyata berakibat kepada rusaknya masyarakat, oleh karena itu berbagai upaya harus dilakukan dalam rangka pemberdayaan keluarga, yakni dengan mengfungsikan keluarga untuk membentuk generasi yang beriman, bertaqwa, dan berakhlakul karimah serta terpenuhinya material dan spiritual. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW  sebagai berikut :

اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحوها  وخا لق النس بخلق حسن (رواه الترميذي وقال حديث حس)
      Artinya : Bertakwalah kamu kepada Allah, dimanapun kamu berada . Ikutilah perbuatan jahat itu dengan perlakuan baik, niscaya perbuatan baik itu bisa menghapusnya. Dan bergaullah kamu sesama manusia dengan budi pekerti yang baik[2] (HR Tirmidzi)
              Akhirnya diperlukan pembinaan penyuluhan keagamaan dalam sebuah keluarga terutama ibu, dari ibulah awal anak mengenal dunia luar. Oleh karena itu diperlukan keluarga yang berkwalitas yang menjadi dasar kualitas generasi yang selanjutnya.
Namun diluar bapak/ibu tugas memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat adalah tugas kita bersama juga menjadi tugas pemerintah sehingga semua elemen masyarakat dapat bersatu seia sekata dapat memberikan tugas mereka sebagai orangtua dengan optimal sehingga cita-cita untuk menjadikan generasi yang qurani generasi yang kuat dan dapat menghadapi arus perkembangan jaman dengan keseimbangan antara arus modernisasi tapi tetap berpedoman Al-Qur’an dan sunnnah Nabi.Usaha-usaha yang dapat kita capai untuk mewujudkan keluarga yang sakinah sehingga menjadikan anak-anak yang berkwalitas anatara lain:
1.      Mengadakan penyuluhan kepada sekolah-sekolah betapa pentingnya mengajarkan bimbingan moral kepada siswa-siswa didik sehingga menjadi anak didik yang berprestasi dan berakhlak mulia.
2.      Mengadakan Program Keluarga sakinah yang ditujukan kepada keluarga produktif yang diharapkan peserta program keluarga sakinah mampu mendidik membimbing putera puteri mereka ke arah yang baik dan sesuai dengan ajaran agama
3.      Mendirikan program-program pembelajaran keagamaan di luar bagi anak-anak usia sekolah ( Madin TPQ) sehingga anak-anak dapat terhindarkan dari kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, mereka dapat bersosialisasi dengan teman-teman mereka tapi juga memperoleh pendidikan keagamaan.
4.      Mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan bagi anak usia remaja dengan mendirikan kelompok remaja masjid atau karang taruna sehingga mereka dapat berperan aktif dalam lingkungan sekitarnya.
5.      Mengaktifkan dan menggerakkan organisasi keagamaan seperti IPNU IPPNU, Fatayat, Muslimat, Nasyiatul Aisiyah, IRM, Pemuda Muhammadiyah, dll sehingga diharapkan remaja maupun muda mudi dan masyarakat dapat berperan aktif dalam memajukan agama Islam melalui organisasi keagamaan.
                    Pemerintah sekarang ini masih tidak atau belum memperhatikan sepenuhnya kegiatan dan organisasi keagamaan yang ada di tengah-tengah masyarakat.
                Sejauh ini pemerintah belum bisa mengoptimalkan peran dan fungsi kegiatan keagamaan yang ada di masyarakat, ini dibuktikan dengan belum terjadinya secara baik antara kegiatan dan organisasi keagamaan di masyarakat. Setiap kegiatan kegiatan organisasi keagamaan dan kegiatan keagamaan belum terjadi/ada koordinasi dengan pemerintah secara keseluruhan, setiap kegiatan-kegiatan dan organisasi keagamaan masih berjalan secara mandiri dan masih sebatas berjalan tanpa adanya perlindungan.


[1] Azyumardi Azra,  Pendidikan Islam;tradisi dan modernisasi menuju MIllennium   baru, (Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 2002), hlm.5
[2] Zakiyah Darojat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, hlm.88.
[3] Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan,, hlm.277. 
[4] Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahannya. Hlm 951 
[5] Departemen Pendidikan Nasional, “ Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional”, No 20, th 2003, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2003), cet I hlm 5. 
[6] Elisabeth Hurlock, Develomental Psycology”, terj. Istiwidayanti & Soedjarwo, (Jakarta:Erlangga, 1999) cet, VII hlm. 114
[7] Jalaludin, “Mempersiapkan Anak Saleh”, (Jakarta PT Raja Grafindo Persada, 2000), cet. III hlm 117 
[8] Mahmud Yunus, “Pokok-Pokok Pendidikan dan  Pengajaran” (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1978), cet II, hlm. 13
[9] J Muhyidin, “Etika Al-Ghozali”,( Bandung : Pustaka, 1988), cet I hlm. 89 
[10] H. Husni Rahim, “Pendidikan Agama dan Akhlak bagi Anak dan Remaja”, (Jakarta/Ciputat: PT Logos Wacana Ilmu,2002) cet, I hlm 45.
[11] M. Quraish Shihab,”Wawasan Al-Qur’an”(Bandung: Mizan, 2000) cet. X hlm. 261 
[12] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang : CV Toha Putra 1989) edisi revisi hlm. 847 
[13] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang : CV Toha Putra 1989) edisi revisi hlm. 233 
[14] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang : CV Toha Putra 1989) edisi revisi hlm. 916
[15] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang : CV Toha Putra 1989) edisi revisi hlm. 678 
[16] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang : CV Toha Putra 1989) edisi revisi hlm. 678
[17] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang : CV Toha Putra 1989) edisi revisi hlm. 678 
[18] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang : CV Toha Putra 1989) edisi revisi hlm. 678


Kamis, 21 April 2016

Manfaat Sholat (Khutbah Jum'at Bahasa Jawa)

Oleh. H. Iwan Hafidz Zaini, S.HI

َلْحَمْدُ لِلهِ الْوَاحِدِ اْلاَحَدِ الْفَرْدِالصَّمَدِ الَّذِىْ لَم يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفْوًا اَحَدْ. اَشْهَدُاَنْ لآ اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُونُ سَبَبَ النَّعِيْمِ الْمُؤَبَّدُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمِ المُمَجَّدْ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ مَا رَكَعَ رَاكِعٌ وَسَاجِدٌ
اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُتَّصِفِ بِالْكَرِمِ وَالْجُوْدِ، وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ والتَّابِعِيْنَ لَهُمْ باِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الْمَوْعُدِ وَسَلِّم تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اَمَّابَعْدُ فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا الله وَحَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوَاتِ فَاِنَّهَا مِفْتَاحُ الجَنَّةِ وَهِيَ عَنْ حَرِّ جَهَنَّمَ جُنَّةٌ

Hadirin jamaah Jum’at ingkang minulyo

Minangka purwakaning atur keparenga kula ngunjukaken puji lan syukur wonten ngarsa dalem Allah Ta’ala awit peparingipun rahmat lan kanugerahan kawilujengan dateng kito sedaya, sahingga ngantos dinten punika kito saget sesarengan makempal ing papan minulya punika,. Panyuwun kito mugi sedaya amal ibadah kito tinampi wonten ngarsa dalem Allah Ta’ala. Amin.
Monggo wonten ing kasempatan meniko kulo lan panjenengan sedoyo sami ningkataken iman soho taqwo kito dateng Allah SWT, kanthi ngelampahi nopo ingkang dipun perintah soho nebihi awisanipun Allah. Kanthi taqwa kito saget wilujeng, selamet dumugi akhirat mangkeh.  Jalaran inggih namung kanti iman lan taqwa punika kito sedaya bade manggih kawilujengan , Allah sampun njanjekaken kanti dawuhipun :

 وَنَجَّيۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ١٨

Lan Ingsun nyelametake marang wong wong kang pada iman lan wong kang pada tansah netepi taqwa”.(QS. Fushshilat: 18).

Ugi boten kesupen kito tansah ngraosaken syukur dateng Allah kanti nikmat ingkang dipun paringaken dumateng kito sedoyo. Khususipun nikmat iman lan nikmat Islam.

Hadirin jamaah Jum’at Rahimakumullah

Alhamdulillah wonten ing dinten meniko kulo lan panjenengan sedoyo tasih saget manggihi wulan ingkang mulyo inggih puniko wulan Rojab utawi Rejeb. Ingkang wonten ing wulan meniko wonten peristiwa ingkang bersejarah inggih puniko peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Ingkang wonten peristiwa meniko Nabi angsal wahyu saking Allah arupi sholat 5 wekdal.

Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam nampi perintah sholat 5 wekdal saking Allah subhaanahu wa ta’aala kanthi cara ingkang istimewa sanget. Allah ta’aala ngradinaken (memperjalankan) hambaNipun wonten ing dalu nglampahi horizontal journey from earh to earth saking masjid Al-Haram, Makkah dumugi Masjid Al-Aqsho, Baitul Maqdis (Palestina). Selajengipun Allah ta’aala ngradinaken Nabi Muhammad kanti vertical journey from earth to the heavens in the sky saking Masjid Al-Aqsho, Baitul Maqdis kepanggih langsung kalih Allah ta’ala wonten ing Sidrotul Muntaha. Lajeng Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam nampi perintah sholat.

Bilih saking pentingipun sholat meniko Allah langsung paring wahyu piyambak dateng Nabi tanpo lantaran malaikat Jibril. Milo ibadah sholat meniko ibadah ingkang boten saget dipun enyang utawi tawar. Benten kalih zakat, poso, lan haji. Menawi zakat ingkang angsal kewajiban namung tiyang ingkang mampu. Poso menawi musafir utawi sakit ingkang netepi syarat, kepareng boten poso. Haji ingkang kewajiban namung tiyang ingkang mampu biaya, ugi mampu lahir batin ipun. Nanging sholat meniko tiyang ingkang sugih, melarat, saras utawi gerah, jaler utawi estri, muqim utawi musafir, rakyat, pejabat sedoyo kewajiban nindakaken sholat. Boten kiyat ngadek, lenggah. Boten kiyat lenggah, turon miring, boten saget, mlumah, boten saget mlumah, sak saget-sagetipun. Boten saget maos Fatihah, maos ayat sak sagetipun. Boten saget maos ayat saget maos dzikir. Boten saget maos dzikir mendel mawon.

Milo saking meniko monggo kito sami ngrekso dateng sholat kito. Amargi benjang wonten ing akherat amal ingkang pertama kali dipun tangkletaken inggih puniko masalah sholat. Menawi sholatipun sae, sedoyo amal diitung sae. Suwalikipun, menawi sholatipun awon, asring nilar sholat, sedoyo amal diitung awon.

Wonten pitutur bilih sholat wonten ing agomo meniko ibarat sirah wonten ing jasad. Menawi kulo lan panjenengan sedoyo gesang boten gadah tangan tesih saget gesang. Menawi gesang tanpo sikil nggih tesih saget gesang. Nanging kulo lan panjenengan boten saget gesang menawi sirah niki boten wonten. Milo kanjeng Nabi dawuhaken sholat meniko dados sokone agomo. Kanjeng Nabi paring dawuh :
الصَّلاَة عِمَادُ الدِّيْنِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ، وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ

Shalat iku minangka cagake agama, sapa wonge njejekake shalat, mangka ateges njejekake agama, Lan sapa wonge tinggal shalat ateges wong iku ngrubuhake agama” (HR. Muslim).

Hadirin Jamaah Jumat ingkang minulya

Kejawi sholat meniko perintahipun Allah, sholat ugi gadah faidah ingkang ageng inggih puniko:
1.        Nglebur duso

Saking Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, nyaosi perso bilih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ngendikan::,
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا
قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »

Opo awakmu ngerti, sakupama ana siji kali neng cedhak lawang salah siji siro kabeh, nuli dheweke adus saka banyu kali kuwi saben dina ping lima, apa arep turah regedane senajan sethithik?” Poro sahabat njawab, “Boten turah sethithika regedane.” Kanjeng Nabi ngendiko, “mula ngonoa umpama sholat lima wektu, Allah mbrusakake dosa (mergo sholat)” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
 Saking Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dawuh,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

Antara shalat limang wektu, antara Jumat siji lan Jumat liyane, antara Ramadhan siji lan Ramadhan liane, iku iso nglebur dosa antara karo-karone sakjeruning wong mou ngadohi dosa-dosa gede.” (HR. Muslim no. 233).

2.    Ati tentrem

Sholat meniko salah setunggalipun sarono kulo lan panjenengan sedoyo eling marang Allah. Tiyang ingkang eling marang Allah ati dados tentrem, ayem.
Allah Ta’ala paring dawuh,

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤
Saktemene Aku Iki Allah, ora anaPangeran sakliyane Aku, mongko sembaho Aku lan nindakno shalat kanggo eling marang Aku”. (Thaha: 14)

Wonten ing QS. ar-Raad ayat 28

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨
"(yoiku) wong-wong sing iman lan ati deweke kabeh dadi tentrem karo eling marang Allah. Elingo, mung karo eling  Allah ati dadi tentrem".

3.    Nyambung silaturahmi

Kulo lan panjenengan sedoyo dipun anjuraken sholat kanti berjamaah. Amargi sholat jamaah gadah faidah ingkang ageng sanget antawisipun ganjaran dipun tikelaken ugi saget dados sarono silaturahmi kulo lan panjenengan sedoyo menawi nglampahi sholat jamaah wonten ing masjid ugi mushola. Kanti sholat jamaah teng masjid kulo lan panjenengan sedoyo saget kepanggih rencang, sederek, konco lan sanes-sanesipun. Menawi boten wonten jamaah teng masjid rekaos kulo lan panjenengan saget pepanggihan. Amargi wekdal ingkang boten enten, sibuk kaliyan pedamelanipun piyambak-piyambak.

4.     Bucal maksiat pribadi piyambak lan masyarakat
Allah Ta’ala dawuh,

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ
saktemene sholat iku biso nyegah soko penggawean-penggawean kang jember (olo) lan munkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).

Tembung fahisyah ingkang dimaksud wonten ing ayat meniko inggih puniko pendamelan ingkang awon ingkang dipun remeni howo nafsu kados zina, liwath (homoseks/lesbian), lan sanesipun. Ingkang nami munkar inggih puniko pendamelan saklintunipun fahisyah ingkang dipun ingkari akal lan fitrah kados syirik, mejahi tiyang (membunuh), maling, mendem, mutus tali silaturahmi lan sanes-sanesipun.

Saklintunipun sholat saget bucal maksiat wonten ing pribadi piyambak ugi sholat saget bucal maksiat wonten ing lingkungan kulo panjenengan sami. Saget dipun titeni, teng pundi kemawon menawi daerah meniko tesih katah tiyang ingkang sholat khususipun sholat jamaah teng masjid, kemaksiatan wonten ing lingkungan meniko boten wonten utawi kirang. Menawi lingkungan meniko masyarakatipun nilar sholat mesti katah utawi wonten kegiatan utawi acara ingkang berbau kemaksiatan.

Pramila monggo kito tansah ngupaya lan mbudi daya amrih tumandang ibadah shalat tansah dipun tingkataken, kanti tansah nyinaoni ilminupun saha tata cara shalat ingkang langkung sae. Jalaran mboten sekedik antawis kito ingkang nindakaken shalat, nanging mboten kanti mangertosi ilmu ilmunipun, syarat rukunnipun, makruh lan sunatipun lan ugi batalipun shalat. Tumindakipun namung sarana apalan lan kulinan, nanging tuntunan lan piwucalipun shalat mboten dipun mangertosi. Eman sanget tiwas kangelan wusananipun mboten keleresan, shalat kito menika mila tansah perlu dipun dandosi. Sinten mawon tiyangipun tetep perlu ningkataken kwalitas ibadah shalatipun. Menapa tiyang menawi sampun lawas anggenipun nindak aken shalat mesti shalatipun sampun sae? Mboten. Amergi shalat boten kemawon apal waosan saha gerakanipun, nanging kados pundi sagetipun anggaota lan manah saget manunggal kumadep, kumawula dateng ngarsanipun Allah. Ampun ngantos badanipun tumandang shalat, ruku’ sujud, lisanipun ndremimil maos lafadlipun waosan shalat, nanging manahipun suwung mboten nderek shalat, utawi malah kluyuran kesah ngetutaken pengangen-angenipun. Sahingga katingalipun tiyang shalat, nanging piyambakipun supe menawi nembe shalat. Bab menika Allah maringaken pepenget :

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥
Saktemene neraka wail iku kanggo wongkang pada shalat, yaiku wong kang pada lali karo shalate” ( QS.Al Ma’un : 4-5 ).

Pramila, shalat saget dados kenikmatan lan maringi manfaat ingkang ageng dateng pribadi piyambak menawi saget sholat kanti khusyu’.

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢
Saktemene bejo sanget wong-wong sing iman. Yoiku wong-wong sing khusyu’ ono ing sak jeroning shalat”. (Al Mukminun: 1-2)

5.    Sholat dados pepadang

Dipun sebataken wonten ing hadits Abu Malik Al Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paring dawuh,
وَالصَّلاَةُ نُورٌ

Shalat iku pepadang.” (HR. Muslim no. 223)

Ugi wonten hadits saking Burairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paring dawuh,

بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِى الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Wenehono kabar bungah kanggo wong sing mlaku menyang masjid ono ing jero peteng, saktemene besok deweke arep gowo pepadang sing sampurna ono ing dino kiamat” (HR. Abu Daud no. 561 dan Tirmidzi no. 223. Al Hafizh Abu Thohir ngginemaken bilih hadits meniko shahih)

Hadirin jamaah Jumat ingkang minulya

Shalat ingkang dados inti lan pokokipun agami Islam mila mboten kenging dipun sepelekaken, kedah tansah kito jagi lan kito reksa, syukur saget katindakaken kanti jama’ah, amargi langkung enteng tanggung jawab kito, ugi ganjaran ingkang cetha kito mangertosi dipun tikel tikelaken dening Allah. Mugi kito kalebetna kawula ingkang tansah nuhoni kewajiban shalat kanti ajeg lan jejeg, pikantuk ridlanipun Allah Ta’ala.


بَارَكَ الله لِى وَ لَكُمْ فِى القُرْاَنِ الْعَظِيْم وَنَفَعَنِ وَاِيَّاكُمْ بِالْاَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْم اِنَّهُ هُوَ التَّوَّبُ الرَّحِيْم وَقُلْ رَبِّ اْغفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّحِمِيْنَ

Senin, 18 April 2016

Rakor Pokjaluh Kab. Boyolali





Selasa, 19 April 2016 bertempat di Kantor Urusan Agama (KUA) kec. Teras,  Pokjaluh Kankemenag Kabupaten Boyolali mengadakan pertemuan Rakor dan Pembinaan.
Pembinaan rutin tiap bulan ini dihadiri oleh seluruh  Penyuluh Agama Islam Fungsional Kabupaten Boyolali dan Kasie Bimas Islam Kankemenag Kabupaten Boyolali Drs. H. Muh Mu'alim M. PdI.

Dalam pembinaannya Kasie Bimas mengatakan bahwa Kankemenag Kab. Boyolali ditunjuk menjadi Zona Integritas. Oleh karena itu, KUA dan penyuluh untuk benar-benar menjalankan Zona Integritas. Hal tersebut meliputi kedisiplinan, kejujuran, transparansi, akuntabilitas, dan pembangunan sistem dalam bertugas.

Selain itu kasi bimas berpesan kepada penyuluh untuk mengantisipasi gerakan radikal di daerah tugasnya.

Dalam rapat intern Pokjaluh membahas program kerja Penyuluh selanjutnya juga persiapan menghadapi Penyuluh teladan 2016


Kamis, 11 Februari 2016

Khutbah Jum'at => Menggapai Rizki Berkah

Oleh. Iwan Hafidz Zaini, S.HI

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan apa yang diperintah dan meninggalkan segala larangan-larangan. Tak lupa kita harus senantiasa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita. Utamanya Kenikmatan yang berupa rezeki atau rejeki.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah
Allah adalah Dzat Maha Pemberi Rezeki dan rezeki kita telah dijamin dan ditentukan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”

Sebelum kita lahir di dunia ini rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Tidak hanya rezeki, tapi ajal kita, amalan kita sudah ditentukan oleh Allah ketika malaikat meniupkan ruh ke dalam rahim. Juga hidup kita didunia ini semua telah ditentukan oleh Allah. Bukan kita yang menentukan. Allah yang menentukan kita hanya menerima dan berikhtiar.

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ ٣٢
Artinya: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Andaikata manusia bisa menentukan penghidupannya tentulah manusia menginginkan hal-hal yang baik atau yang indah. Manusia pasti ingin punya wajah yang ganteng atau cantik. Mempunyai badan yang tinggi dan gagah. Hidup bergelimang kekayaan daripada kemiskinan, dan lain-lain. Oleh karena itu, Allah tidak menjadikan wajah elok, kekayaan, tinggi jabatan sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang. Allah mengukur kemuliaan dari amal sholih dan ketaqwaan.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Seorang muslim harus berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah takdir Allah. Jika kita berkeyakinan seperti itu maka kita akan merasakan kebahagiaan hidup di dunia. Merupakan pemahaman yang keliru ketika kita sudah yakin bahwa rezeki sudah ditentukan Allah kemudian kita hanya duduk berpangku tangan tanpa ikhtiar dan usaha, bermalas-malasan. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk bekerja keras tanpa harus melupakan akherat.
Firman Allah

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qoshosh:77)


Jika kita hidup bisa memilih, pasti kita akan memilih hidup bergelimang harta. Akan tetapi sebagaimana yang telah saya sebutkan tadi bahwa hidup kita telah ditentukan Allah. Seberapa banyak atau sedikit harta kita, harus kita terima dengan lapang dada. Bukanlah banyak-sedikitnya harta yang menjadi ukuran kebahagiaan. Namun yang menjadikan kebahagiaan adalah bila harta tersebut diberkahi.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Harta yang berkah adalah harta yang mendatangkan kebaikan dan bertambah. Berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambah-tambahnya kebaikan”
Harta yang berkah akan membuat pemiliknya selalu tenang. Harta yang berkah tidak selalu harus banyak, tapi selalu ada ketika di butuhkan. Harta yang berkah meskipun sedikit mampu menghidupi dan mencakupi apa saja yang dibutuhkannya. Harta yang berkah tidak saja berkah bagi pemilik harta, tapi juga orang lain bisa ikut merasakannya. Sedikit harta tapi berkah lebih baik daripada banyak harta namun tidak berkah. Bisa saja harta banyak tapi kemudian dirampok. Harta banyak kemudian sakit berkepanjangan sehingga habis untuk berobat. Nauzubillahmin dzalik.

Lantas bagaimana usaha kita agar harta atau rezeki kita diberkahi?
Pertama, agar harta berkah adalah jika harta tersebut didapat dari usaha yang halal.
إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا
“Sesungguhnya Allah Maha baik, dan tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Bukhari Muslim).
Hadist ini menjelaskan bahwa harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah. Ia tidak harus banyak. Sedikit tapi berkah lebih baik daripada yang banyak tetapi tidak berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal. Karena Allah tidak mungkin memberkahi harta yang haram. Mencari rezeki yang halal adalah perintah Allah. Sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqoroh : 172)

Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 100 menjelaskan bahwa tidaklah sama kwalitas antara harta haram dengan harta halal, sekalipun harta yang haram begitu menakjubkan banyaknya. Sekali lagi tidaklah sama antara harta halal dengan harta haram. Harta haram dalam ayat di atas, Allah sebut dengan istilah khabits.

قُل لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِيثِۚ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠٠
Artinya: “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan"

Kata khabits menunjukkan sesuatu yang menjijikkan, seperti kotoran atau bangkai yang busuk dan tidak pantas untuk dikonsumsi karena akan merusak tubuh: secara fisik maupun mental. Tidak ada manusia yang mau memakan kotoran dan yang busuk. Sementara harta halal disebut dengan istilah thayyib, artinya baik, menyenangkan dan sangat membantu kesehatan fisik dan mental jika dikonsumsi.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Kedua, agar harta berkah selanjutnya adalah mengeluarkan zakatnya (jika mencapai nisab) dan menjadikannya sebagai sarana ibadah. Zakat, infak, sedekah, membantu sesama,
Dalam masyarakat, banyak kita jumpai orang yang hidupnya telah mapan, bahkan kaya raya, tapi tetap saja kikir, pelit, bakhil. Bahkan semakin kaya semakin bakhil, sehingga semakin hari semakin merasa kurang saja. Karena merasa selalu kekurangan, ia pun enggan bersedekah. Padahal, menurut Al-Quran, kalau kita ingin dicukupkan rezeki oleh Allah SWT, haruslah bersedia berbagi. Dan ketahuilah bahwa sifat kikir pelit dan eman untuk menginfaqkan harta adalah bisikan dari syetan. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 268.

ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٦٨
Artinya: “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat "Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan", maksudnya: syetan menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

Menurut Al-Jazairi, ayat "Dan menyuruh kamu berbuat buruk" berarti syetan menyeru kalian untuk mengerjakan perbuatan buruk, di antaranya bakhil dan kikir. Karenanya Allah Ta'ala memperingatkan para hamba-Nya dari syetan dan godaannya, lalu mengabarkan bahwa syetan menjanjikan dengan kefakiran, artinya: menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan sehingga mereka tidak mengeluarkan zakat dan shadaqah. Sebaliknya ia menyuruh mereka untuk berbuat buruk sehingga mengeluarkan harta mereka dalam keburukan dan kerusakan, serta bakhil mengeluarkannya untuk kebaikan dan kemaslahatan umum. Padahal kenyataannya sebaliknya. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan mendatangkan keberkahan.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia

Diakhir khutbah ini saya berpesan. Marilah kita mencari rezeki Allah yang telah Allah sediakan untuk kita dengan cara yang halal agar kita hidup diberikan keberkahan. Amin.


Kamis, 07 Januari 2016

KHUTBAH JUM'AT = UJIAN SEORANG MUSLIM

Oleh. Iwan Hafidz Zaini. SHI

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أما بعد فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون, اتقو الله حق تقاته ولاتموتن ألا وأنتم مسلمون. وقد قال الله تعالى فى القرأن الكريم وَإِن تَصبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِن عَزمِ ٱلأُمُورِ

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah.

Marilah kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT kepada kita yang tiada henti. Mulai dari kita bangun pagi sampai kita tidur lagi nikmat Allah tiada putus. Jika kita mensyukuri nikmat Allah maka akan mudah bagi kita untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. 

Oleh karena itu, mumpung kita masih diberi nikmat Allah yang berupa kesehatan, di siang hari ini marilah kita pergunakan untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan beribadah kepadaNya. Jangan kita menunggu ujian ataupun cobaan dari Allah untuk menjadi hamba yang taat.
Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia

Kita hidup mulai dari akil baligh sampai kita meninggal adalah ujian. Ujian yang nantinya akan dinilai oleh Allah berdasarkan amal. Dengan adanya ujian akan diketahui mana hamba Allah yang baik amalnya. Sebagaimana firman Allah:

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

Artinya : “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk:1-2)

Seringkali kita menganggap sama antara ujian dan cobaan. Ujian ya cobaan. Cobaan ya ujian. Bukan. Lalu, apakah perbedaan antara ujian dan cobaan?
Ujian adalah suatu masalah yang diberikan kepada kita untuk mengetahui seberapa tinggi kualitas kita. Jika lulus ujian, berarti kualitas meningkat. Sedang cobaan hampir sama dengan ujian, akan tetapi memiliki konotasi yang agak berbeda, jika ujian menjurus pada kenaikan tingkat, maka cobaan hanya mencoba apakah kita bisa bertahan.

Adakalanya kehidupan sebelum baligh pun merupakan ujian. Seperti orang yang terlahir dalam keadaan tidak sempurna. Memiliki cacat fisik maupun mental. Ujian secara fisik ini termasuk kategori fi anfus dalam bahasa Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah:

لَتُبۡلَوُنَّ فِيٓ أَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ

Artinya: “Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu.” (QS. Ali-Imron:1)

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Ujian Allah yang diberikan kepada kita bisa berupa dua hal. Yaitu, ujian yang berbentuk kenikmatan dan ujian yang berbentuk musibah. Namun seringkali kita menyangka bahwa ujian adalah musibah. Sedang kenikmatan bukan ujian. Bagi orang beriman sebenarnya rumus umum tentang ujian adalah bahwa orang yang lebih kuat imannya ia akan mendapat ujian yang lebih berat. Seperti anak SMA akan mendapat soal ujian yang lebih sulit dibanding anak SMP. Begitu juga anak SMP akan mendapat soal ujian yang lebih sulit dari anak SD. Artinya, semakin tinggi keimanan seseorang semakin berat ujiannya.  Rasulullah pernah menjawab pertanyaan Saad bin Abi Waqash mengenai tingkat ujian tersebut.

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah)

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Kita bisa melihat dalam sejarah, betapa ujian yang dialami para Nabi dan Rasul sangat berat. Begitu juga ujian yang dialami para wali Allah. Jika ujian berat dan kita berhasil melaluinya maka pahala yang besarpun akan kita dapatkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
وَاِذَا عَظُمَت المِحْنَةُ كَانَ ذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ سَبَبًا لِعُلُوِّ الدَرَجَةِ وَعَظِيْمِ الاَجْرِ
Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.

Dan ujian merupakan tanda cinta kasih Allah kepada hambaNya. Sebagaimana sabda Nabi.

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“ Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut, pen), maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah.

Janganlah kita mengira bahwa ujian hanya berupa musibah seperti bencana, sakit, miskin, bangkrut, kecelakaan, dan lain sebagainya. Akan tetapi yang namanya jabatan, kekayaan, kesenangan, kekuasaan juga merupakan ujian. Bahkan ujian tipe kedua ini seringkali lebih berat. Tidak sedikit yang bisa menghadapi ujian tipe kedua ini. Banyak orang yang diuji Allah dengan kemiskinan ia mampu menghadapinya. Ia mampu bersabar bahkan mampu menambah ibadahnya kepada Allah. Namun, begitu diberi kekayaan ia lupa dengan ibadah-ibadahnya. Ia sibuk dengan hal-hal yang bersifat dunia sehingga melupakan ibadahnya yang merupakan amal akherat.

Lantas apa bekal yang harus kita miliki untuk menghadapi ujian dari Allah? Baik berbentuk ujian kesusahan maupun ujian kenikmatan? Yang harus kita miliki adalah sabar dan taqwa.

وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٨٦

Artinya: “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”  (QS. Ali-Imron:186)

Bersabar dan bertaqwa itulah kunci menghadapi ujian. Bentuk kesabaran saat menghadapi ujian kesusahan adalah dengan mengedepankan sikap ridha pada Allah atas taqdirNya, mengambil hikmah dari ujian tersebut serta berikhtiar supaya dikeluarkan dari kesulitan-kesulitan yasng dihadapinya. Sedang bentuk kesabaran terhadap ujian yang berupa kenikmatan berupa kekayaan, jabatan, kesenangan adalah dengan bersyukur dan berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berlebihan, hal yang diharamkan, serta menyadari bahwa apa yang kita lakukan ada dalam pengawasan Allah SWT.

Mereka yang sabar akan menerima ganjaran pahala yang tidak terbatas dan memudahkannya untuk menjadi ahli syurga. Firman Allah S.W.T:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar:10)

Semoga Allah memberi taufik dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi setiap ujian.
بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم، ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم بتلاوته إنه هو السميع العليم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم



Minggu, 29 November 2015

Kemenag Kab. Boyolali Adakan Pembinaan Pelatih dan Calon Dewan Hakim Tilawah









Untuk mencetak para qori' dan qoriah terbaik di kabupaten Boyolali maka Kantor Kementerian Agama kabupaten Boyolali mengadakan Pembinaan Pelatih dan calon Dewan Hakim Tilawatil Qur'an pada hari Senin, 30 November 2015 di Kedai Padmo Mojosongo.

Kenapa mencetak qori' qori'ah terbaik yang diundang para pelatih dan calon dewan hakim? Karena jika pelatih dan calon hakim baik maka akan tercetak para qori' dan qori'ah yang baik dan berkualitas. Para pelatih dibekali ilmu-ilmu qori'ah dan para hakim dibekali ilmu manajemen perhakiman.

Drs. H. Mualim M.PdI kasi Bimas Islam sekaligus panitia pembinaan dalam sambutannya mengatakan bahwa pembinaan ini mempunyai tujuan agar para pelatih, pembina tilawah juga calon dewan hakim mempunyai persepsi ilmu dan penilaian yang sama dan bisa obyektif ketika ada MTQ di semua tingkatan.

Sebagai narasumber dalam pembinaan ini adalah Drs. H. Asikin. M. Ag yang menjadi dewan hakim LPTQ Provinsi Jawa Tengah dan juga menjabat sebagai Kasubag TU di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali.


Rabu, 25 November 2015

Rapat koordinasi Dengan Tokoh Agama Kankemenag Kab. Boyolali












Untuk mengetahui informasi-informasi keagamaan di masyarakat terutama masalah gerakan radikalisme , Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali mengadakan Rapat koordinasi dengan para tokoh agama pada hari Kamis, 26 November 2015 di Kedai Padmo Mojosongo Boyolali.

Acara ini dihadiri oleh 35 peserta yang terdiri dari penyuluh agama fungsional dan tokoh masyarakat. Dalam sambutannya Kepala Kankemenag Kab. Boyolali Drs. H. Saerozi M.Si mengharapkan adanya pertemuan antara penyuluh pns dengan non pns atau tokoh agama minimal setahun sekali untuk menyampaikan informasi-informasi yang terjadi di masyarakat. Sebab penyuluh maupun tokoh agama menjadi corong agama di masyarakat. Selain itu, Penyuluh maupun tokoh agama diharapkan menguasai teknologi informasi supaya cepat dalam menerima atau mendapat informasi.

Kankemenag mengungkapkan kekhawatiran terhadap moralitas remaja zaman sekarang terutama di daerah Boyolali dan ini menjadi tugas penyuluh dan tokoh agama. Juga para tokoh agama diharapkan bisa menangkal gerakan-gerakan radikalisme.

Kasi Bimas Islam Drs. H. Mualim, M.Pd.I mengharapkan penyuluh dan tokoh agama menjadi pemersatu perbedaan yang terjadi di masyarakat .


Diberdayakan oleh Blogger.