Pokjaluh Kabupaten Boyolali berpose didepan kantor Kemenag

Bekerja profesional mengabdi kepada masyarakat

Pertemuan Ustadz-ustadzah MADIN

Pak Masud, S.Ag menyampaikan pertanyaan kepada narasumber

Seminar ESQ

Berpose bersama Narasumber Seminar ESQ

Pelantikan Pokjaluh dan FKPAI

Pelantikan Pengurus Pokjaluh dan Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam Kabupaten Boyolali oleh Kepala Kankemanag Kabupaten Boyolali

Anjangsana Keluarga POKJALUH

Untuk menjalin keakraban antara keluarga penyuluh mengadakan anjangsana setiap tahunnya.

Kamis, 11 Februari 2016

Khutbah Jum'at => Menggapai Rizki Berkah

Oleh. Iwan Hafidz Zaini, S.HI

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan apa yang diperintah dan meninggalkan segala larangan-larangan. Tak lupa kita harus senantiasa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita. Utamanya Kenikmatan yang berupa rezeki atau rejeki.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah
Allah adalah Dzat Maha Pemberi Rezeki dan rezeki kita telah dijamin dan ditentukan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”

Sebelum kita lahir di dunia ini rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Tidak hanya rezeki, tapi ajal kita, amalan kita sudah ditentukan oleh Allah ketika malaikat meniupkan ruh ke dalam rahim. Juga hidup kita didunia ini semua telah ditentukan oleh Allah. Bukan kita yang menentukan. Allah yang menentukan kita hanya menerima dan berikhtiar.

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ ٣٢
Artinya: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Andaikata manusia bisa menentukan penghidupannya tentulah manusia menginginkan hal-hal yang baik atau yang indah. Manusia pasti ingin punya wajah yang ganteng atau cantik. Mempunyai badan yang tinggi dan gagah. Hidup bergelimang kekayaan daripada kemiskinan, dan lain-lain. Oleh karena itu, Allah tidak menjadikan wajah elok, kekayaan, tinggi jabatan sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang. Allah mengukur kemuliaan dari amal sholih dan ketaqwaan.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Seorang muslim harus berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah takdir Allah. Jika kita berkeyakinan seperti itu maka kita akan merasakan kebahagiaan hidup di dunia. Merupakan pemahaman yang keliru ketika kita sudah yakin bahwa rezeki sudah ditentukan Allah kemudian kita hanya duduk berpangku tangan tanpa ikhtiar dan usaha, bermalas-malasan. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk bekerja keras tanpa harus melupakan akherat.
Firman Allah

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qoshosh:77)


Jika kita hidup bisa memilih, pasti kita akan memilih hidup bergelimang harta. Akan tetapi sebagaimana yang telah saya sebutkan tadi bahwa hidup kita telah ditentukan Allah. Seberapa banyak atau sedikit harta kita, harus kita terima dengan lapang dada. Bukanlah banyak-sedikitnya harta yang menjadi ukuran kebahagiaan. Namun yang menjadikan kebahagiaan adalah bila harta tersebut diberkahi.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Harta yang berkah adalah harta yang mendatangkan kebaikan dan bertambah. Berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambah-tambahnya kebaikan”
Harta yang berkah akan membuat pemiliknya selalu tenang. Harta yang berkah tidak selalu harus banyak, tapi selalu ada ketika di butuhkan. Harta yang berkah meskipun sedikit mampu menghidupi dan mencakupi apa saja yang dibutuhkannya. Harta yang berkah tidak saja berkah bagi pemilik harta, tapi juga orang lain bisa ikut merasakannya. Sedikit harta tapi berkah lebih baik daripada banyak harta namun tidak berkah. Bisa saja harta banyak tapi kemudian dirampok. Harta banyak kemudian sakit berkepanjangan sehingga habis untuk berobat. Nauzubillahmin dzalik.

Lantas bagaimana usaha kita agar harta atau rezeki kita diberkahi?
Pertama, agar harta berkah adalah jika harta tersebut didapat dari usaha yang halal.
إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا
“Sesungguhnya Allah Maha baik, dan tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Bukhari Muslim).
Hadist ini menjelaskan bahwa harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah. Ia tidak harus banyak. Sedikit tapi berkah lebih baik daripada yang banyak tetapi tidak berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal. Karena Allah tidak mungkin memberkahi harta yang haram. Mencari rezeki yang halal adalah perintah Allah. Sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqoroh : 172)

Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 100 menjelaskan bahwa tidaklah sama kwalitas antara harta haram dengan harta halal, sekalipun harta yang haram begitu menakjubkan banyaknya. Sekali lagi tidaklah sama antara harta halal dengan harta haram. Harta haram dalam ayat di atas, Allah sebut dengan istilah khabits.

قُل لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِيثِۚ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠٠
Artinya: “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan"

Kata khabits menunjukkan sesuatu yang menjijikkan, seperti kotoran atau bangkai yang busuk dan tidak pantas untuk dikonsumsi karena akan merusak tubuh: secara fisik maupun mental. Tidak ada manusia yang mau memakan kotoran dan yang busuk. Sementara harta halal disebut dengan istilah thayyib, artinya baik, menyenangkan dan sangat membantu kesehatan fisik dan mental jika dikonsumsi.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Kedua, agar harta berkah selanjutnya adalah mengeluarkan zakatnya (jika mencapai nisab) dan menjadikannya sebagai sarana ibadah. Zakat, infak, sedekah, membantu sesama,
Dalam masyarakat, banyak kita jumpai orang yang hidupnya telah mapan, bahkan kaya raya, tapi tetap saja kikir, pelit, bakhil. Bahkan semakin kaya semakin bakhil, sehingga semakin hari semakin merasa kurang saja. Karena merasa selalu kekurangan, ia pun enggan bersedekah. Padahal, menurut Al-Quran, kalau kita ingin dicukupkan rezeki oleh Allah SWT, haruslah bersedia berbagi. Dan ketahuilah bahwa sifat kikir pelit dan eman untuk menginfaqkan harta adalah bisikan dari syetan. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 268.

ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٦٨
Artinya: “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat "Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan", maksudnya: syetan menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

Menurut Al-Jazairi, ayat "Dan menyuruh kamu berbuat buruk" berarti syetan menyeru kalian untuk mengerjakan perbuatan buruk, di antaranya bakhil dan kikir. Karenanya Allah Ta'ala memperingatkan para hamba-Nya dari syetan dan godaannya, lalu mengabarkan bahwa syetan menjanjikan dengan kefakiran, artinya: menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan sehingga mereka tidak mengeluarkan zakat dan shadaqah. Sebaliknya ia menyuruh mereka untuk berbuat buruk sehingga mengeluarkan harta mereka dalam keburukan dan kerusakan, serta bakhil mengeluarkannya untuk kebaikan dan kemaslahatan umum. Padahal kenyataannya sebaliknya. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan mendatangkan keberkahan.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia

Diakhir khutbah ini saya berpesan. Marilah kita mencari rezeki Allah yang telah Allah sediakan untuk kita dengan cara yang halal agar kita hidup diberikan keberkahan. Amin.


Kamis, 07 Januari 2016

KHUTBAH JUM'AT = UJIAN SEORANG MUSLIM

Oleh. Iwan Hafidz Zaini. SHI

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أما بعد فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون, اتقو الله حق تقاته ولاتموتن ألا وأنتم مسلمون. وقد قال الله تعالى فى القرأن الكريم وَإِن تَصبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِن عَزمِ ٱلأُمُورِ

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah.

Marilah kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT kepada kita yang tiada henti. Mulai dari kita bangun pagi sampai kita tidur lagi nikmat Allah tiada putus. Jika kita mensyukuri nikmat Allah maka akan mudah bagi kita untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. 

Oleh karena itu, mumpung kita masih diberi nikmat Allah yang berupa kesehatan, di siang hari ini marilah kita pergunakan untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan beribadah kepadaNya. Jangan kita menunggu ujian ataupun cobaan dari Allah untuk menjadi hamba yang taat.
Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia

Kita hidup mulai dari akil baligh sampai kita meninggal adalah ujian. Ujian yang nantinya akan dinilai oleh Allah berdasarkan amal. Dengan adanya ujian akan diketahui mana hamba Allah yang baik amalnya. Sebagaimana firman Allah:

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

Artinya : “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk:1-2)

Seringkali kita menganggap sama antara ujian dan cobaan. Ujian ya cobaan. Cobaan ya ujian. Bukan. Lalu, apakah perbedaan antara ujian dan cobaan?
Ujian adalah suatu masalah yang diberikan kepada kita untuk mengetahui seberapa tinggi kualitas kita. Jika lulus ujian, berarti kualitas meningkat. Sedang cobaan hampir sama dengan ujian, akan tetapi memiliki konotasi yang agak berbeda, jika ujian menjurus pada kenaikan tingkat, maka cobaan hanya mencoba apakah kita bisa bertahan.

Adakalanya kehidupan sebelum baligh pun merupakan ujian. Seperti orang yang terlahir dalam keadaan tidak sempurna. Memiliki cacat fisik maupun mental. Ujian secara fisik ini termasuk kategori fi anfus dalam bahasa Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah:

لَتُبۡلَوُنَّ فِيٓ أَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ

Artinya: “Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu.” (QS. Ali-Imron:1)

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Ujian Allah yang diberikan kepada kita bisa berupa dua hal. Yaitu, ujian yang berbentuk kenikmatan dan ujian yang berbentuk musibah. Namun seringkali kita menyangka bahwa ujian adalah musibah. Sedang kenikmatan bukan ujian. Bagi orang beriman sebenarnya rumus umum tentang ujian adalah bahwa orang yang lebih kuat imannya ia akan mendapat ujian yang lebih berat. Seperti anak SMA akan mendapat soal ujian yang lebih sulit dibanding anak SMP. Begitu juga anak SMP akan mendapat soal ujian yang lebih sulit dari anak SD. Artinya, semakin tinggi keimanan seseorang semakin berat ujiannya.  Rasulullah pernah menjawab pertanyaan Saad bin Abi Waqash mengenai tingkat ujian tersebut.

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah)

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Kita bisa melihat dalam sejarah, betapa ujian yang dialami para Nabi dan Rasul sangat berat. Begitu juga ujian yang dialami para wali Allah. Jika ujian berat dan kita berhasil melaluinya maka pahala yang besarpun akan kita dapatkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
وَاِذَا عَظُمَت المِحْنَةُ كَانَ ذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ سَبَبًا لِعُلُوِّ الدَرَجَةِ وَعَظِيْمِ الاَجْرِ
Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.

Dan ujian merupakan tanda cinta kasih Allah kepada hambaNya. Sebagaimana sabda Nabi.

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“ Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut, pen), maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah.

Janganlah kita mengira bahwa ujian hanya berupa musibah seperti bencana, sakit, miskin, bangkrut, kecelakaan, dan lain sebagainya. Akan tetapi yang namanya jabatan, kekayaan, kesenangan, kekuasaan juga merupakan ujian. Bahkan ujian tipe kedua ini seringkali lebih berat. Tidak sedikit yang bisa menghadapi ujian tipe kedua ini. Banyak orang yang diuji Allah dengan kemiskinan ia mampu menghadapinya. Ia mampu bersabar bahkan mampu menambah ibadahnya kepada Allah. Namun, begitu diberi kekayaan ia lupa dengan ibadah-ibadahnya. Ia sibuk dengan hal-hal yang bersifat dunia sehingga melupakan ibadahnya yang merupakan amal akherat.

Lantas apa bekal yang harus kita miliki untuk menghadapi ujian dari Allah? Baik berbentuk ujian kesusahan maupun ujian kenikmatan? Yang harus kita miliki adalah sabar dan taqwa.

وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٨٦

Artinya: “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”  (QS. Ali-Imron:186)

Bersabar dan bertaqwa itulah kunci menghadapi ujian. Bentuk kesabaran saat menghadapi ujian kesusahan adalah dengan mengedepankan sikap ridha pada Allah atas taqdirNya, mengambil hikmah dari ujian tersebut serta berikhtiar supaya dikeluarkan dari kesulitan-kesulitan yasng dihadapinya. Sedang bentuk kesabaran terhadap ujian yang berupa kenikmatan berupa kekayaan, jabatan, kesenangan adalah dengan bersyukur dan berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berlebihan, hal yang diharamkan, serta menyadari bahwa apa yang kita lakukan ada dalam pengawasan Allah SWT.

Mereka yang sabar akan menerima ganjaran pahala yang tidak terbatas dan memudahkannya untuk menjadi ahli syurga. Firman Allah S.W.T:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar:10)

Semoga Allah memberi taufik dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi setiap ujian.
بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم، ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم بتلاوته إنه هو السميع العليم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم



Minggu, 29 November 2015

Kemenag Kab. Boyolali Adakan Pembinaan Pelatih dan Calon Dewan Hakim Tilawah









Untuk mencetak para qori' dan qoriah terbaik di kabupaten Boyolali maka Kantor Kementerian Agama kabupaten Boyolali mengadakan Pembinaan Pelatih dan calon Dewan Hakim Tilawatil Qur'an pada hari Senin, 30 November 2015 di Kedai Padmo Mojosongo.

Kenapa mencetak qori' qori'ah terbaik yang diundang para pelatih dan calon dewan hakim? Karena jika pelatih dan calon hakim baik maka akan tercetak para qori' dan qori'ah yang baik dan berkualitas. Para pelatih dibekali ilmu-ilmu qori'ah dan para hakim dibekali ilmu manajemen perhakiman.

Drs. H. Mualim M.PdI kasi Bimas Islam sekaligus panitia pembinaan dalam sambutannya mengatakan bahwa pembinaan ini mempunyai tujuan agar para pelatih, pembina tilawah juga calon dewan hakim mempunyai persepsi ilmu dan penilaian yang sama dan bisa obyektif ketika ada MTQ di semua tingkatan.

Sebagai narasumber dalam pembinaan ini adalah Drs. H. Asikin. M. Ag yang menjadi dewan hakim LPTQ Provinsi Jawa Tengah dan juga menjabat sebagai Kasubag TU di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali.


Rabu, 25 November 2015

Rapat koordinasi Dengan Tokoh Agama Kankemenag Kab. Boyolali












Untuk mengetahui informasi-informasi keagamaan di masyarakat terutama masalah gerakan radikalisme , Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali mengadakan Rapat koordinasi dengan para tokoh agama pada hari Kamis, 26 November 2015 di Kedai Padmo Mojosongo Boyolali.

Acara ini dihadiri oleh 35 peserta yang terdiri dari penyuluh agama fungsional dan tokoh masyarakat. Dalam sambutannya Kepala Kankemenag Kab. Boyolali Drs. H. Saerozi M.Si mengharapkan adanya pertemuan antara penyuluh pns dengan non pns atau tokoh agama minimal setahun sekali untuk menyampaikan informasi-informasi yang terjadi di masyarakat. Sebab penyuluh maupun tokoh agama menjadi corong agama di masyarakat. Selain itu, Penyuluh maupun tokoh agama diharapkan menguasai teknologi informasi supaya cepat dalam menerima atau mendapat informasi.

Kankemenag mengungkapkan kekhawatiran terhadap moralitas remaja zaman sekarang terutama di daerah Boyolali dan ini menjadi tugas penyuluh dan tokoh agama. Juga para tokoh agama diharapkan bisa menangkal gerakan-gerakan radikalisme.

Kasi Bimas Islam Drs. H. Mualim, M.Pd.I mengharapkan penyuluh dan tokoh agama menjadi pemersatu perbedaan yang terjadi di masyarakat .


Selasa, 20 Oktober 2015

Rakor Akhir Tahun Kemenag Kab. Boyolali



Rakor Akhir tahun Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali pada hari Rabu, 21 Oktober 2015 bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama. Acara di hadiri seluruh Kepala MIN, MTsN, MAN, KUA, Pengawas dan Penyuluh Agama.

Dalam sambutannya Kepala Kementerian Agama Kab. Boyolali Drs. H. Saerozi, M. SI mengatakan rakor ini untuk mengetahui serapan DIPA masing-masing satker. Untuk satker KUA laporan diserahkan kepada sie. BIMAS Islam.

Serapan Kankemenag
Untuk sekjen 67%
Bimas 61 %
Pendis 58 %
Kristen 71 %
katolik 58 %
Budha 71%
Haji 74%
Rata-rata 62,5%
Sebagai catatan hasil audit 2015, pembuatan laporan tidak bisa melaporkan kegiatan secara utuh.

Kasubag TU Drs. H. Askin, M. Ag menyampaikan tentang disiplin PNS dan mengingatkan tentang larangan-larangan PNS. Seperti menyalahgunakan wewenang.

Selanjutnya pemaparan dari masing-masing kasie Kementerian Agama Kab. Boyolali


Senin, 21 September 2015

KHUTBAH IDUL ADHA ==> PELAJARAN IDUL ADHA

Oleh. Iwan Hafidz Zaini, S.HI

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ   اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ   اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. الْحَمْدُ للهِ الْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ (لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡ

أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ



Ma’asyirol muslimin jamaah sholat idul adha yang berbahagia
Sebelumnya marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah, Swt. Serta tak lupa kita senantiasa memanjatkan syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Khususnya di pagi hari ini kita masih diberi kenikmatan berupa hari raya Idul Adha atau hari raya qurban.
Hadirin kaum muslimin muslimat yang dimulyakan Allah SWT
Pagi hari ini kita mengagungkan asma Allah. Semua menampakkan kegembiraan , lakilaki, perempuan, tua muda semua keluar dari rumahnya untuk melaksanakan sholat Idul Adha. Idul Adha mengingatkan kita pada sebuah peristiwa bersejarah yang mengandung pelajaran yaitu perjuangan Nabi Ibrahim. Sejarah Rasul yang berjuluk “khalilullah” kekasih Allah tersebut ditulis dengan tinta emas dibukubuku bersejarah. Sikap tabah dan teguh dalam melaksanakan perintah Allah menjadikan Nabi Ibrahim menjadi uswatun hasanah , panutan yang baik.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa hari raya qurban atau Idul Adha bersumber dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Sejarah dan riwayat tentang qurban ini tidak hanya menjadi dongeng-dongengan, atau pun cerita pengantar tidur. Akan tetapi, cerita yang ada dalam Idul Qurban ini bisa menjadi tauladan, contoh dan pelajaran bagi semua umat manusia.
Firman Allah:
وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣
Begitu juga sejarahnya Nabi Ibrahim AS yang memperoleh perintah dari Allah supaya menyembelih putranya Ismail terdapat pelajaran bagi umat manusia.
Kenapa Nabi Ibrahim yang menjadi contoh? Bukan Nabi yang lain? Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah mengutus 313 Rasul dan 124.000 Nabi. Dan salah satu Nabi yang menjadi panutan yaitu Nabi Ibrahim AS.
قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُ

Artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.. (QS. Al-Mumtahanah:4)

Ma’asyirol muslimin jamaah sholat Idul Adha rahimakumullah

Kenapa Allah memerintahkan Nabi Ibrahim supaya menyembelih putra tercintanya Ibrahim? Padahal ketika Nabi Ibrahim belum dikaruniai putra beliau bernadzar, “Jika aku mempunyai putra maka anakku akan aku qurbankan, saya sembelih bila diperintahkan Allah.”
Setelah dalam waktu yang lama Nabi Ibrahim selalu minta kepada Allah supaya dikaruniai anak, akhirnya doa Nabi Ibrahim diijabahi Allah mempunyai putra yang diberi nama Ismail. Ketika Ismail sudah dewasa Nabi Ibrahim ditagih nadzarnya oleh Allah supaya menyembelih Ismail. Walau akhirnya ketika akan menyembelih Allah menggantinya dengan seekor kambing.

Allahu akbar..allahu akbar walillahilhamd

Sebenarnya tradisi qurban sudah dikenal sejak lama. Seperti kisah putranya Nabi Adam, Qobil dan Habil. Qobil lahir bersama putri yang cantik bernama Iqlima. Sedang Habil lahir bersama putri yang bernama Labuda yang tidak cantik. Dalam ajaran Nabi Adam seseorang menikah dengan orang yang lain ibu. Artinya, obil harus nikah dengan Labuda dan Habil nikah dengan Iqlima. Karena Labuda tidak cantik, Qobil tidak terima. Akhirnya Qobil dan Habil sepakat memberikan qurban kepada Allah. Qobil qurban tanaman atau harta yang jelek. Sedang Habil qurban kambing yang paling bagus. Akhirnya qurban Habil yang diterima oleh Allah.

Ada riwayat, kakeknya Nabi Muhammad, Abdul Mutholib pernah bernadzar jika dikaruniai 10 putra akan menyembelih seorang putra sebagai qurban. Akhirnya diijabahi Allah dan undian jatuh pada ayahnya Nabi Muhammad, Abdullah. Mengetahui nadzarnya Abdul Mutholib, kaum Quraisy mencegah supaya nadzarnya diganti dengan menyembelih 100 ekor unta. Sehingga Nabi Muhammad ada yang menjuluki “putra 2 sesembelihan”. Yaitu Ismail bin Ibrahim dan Abdullah bin Abdul Mutholib.

Ma’asyirol muslimin jamaah sholat Idul Adha rahimakumullah
Sebagaimana yang telah saya sebutkan tadi bahwa kisah-kisah yang disebutkan Allah mengandung pelajaran, contoh kepada umat manusia. Begitu juga dengan peristiwa qurban ini.

Adapun hikmah yang bisa kita ambil dalam Idul Adha adalah:

1.      Taqorub atau mendekatkan diri kepada Allah
Lafadz qurban berasal dari bahasa Arab qoroba yaqrobu qurbanan yang berarti dekat. Artinya orang yang berqurban berarti mendekatkan diri kepada Allah. Karena qurban merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam hidup ini tidak ada alasan apapun untuk tidak beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah. Walaupun  kita hidup dengan ekonomi yang serba pas-pasan. Contohnya seperti Nabi Ayyub yang miskin tetapi masih beribadah, berdzikir kepada Allah. Begitu juga dengan yang kaya tidak bisa beralasan karena sibuk dengan pekerjaan kemudian tidak beribadah.

2.      Melatih keikhlasan
Orang yang ikhlas dan siap berkorban biasanya tegar dan tabah bila ada cobaan dan penderitaan. Seperti Nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih putranya. Karena rasa ikhlas menerima perintah Allah, Nabi Ibrahim bisa tegar dan tabah..
Keikhlasan juga menjauhkan orang dari sifat dzalim / menganiaya orang lain. Orang yang ikhlas tidak akan menyakiti orang lain. Juga biasanya orang yang ikhlas sanggup dan mau mengorbankan diri untuk kepentingan umat. Ibarat lilin, orang yang ikhlas membiarkan dirinya terbakar dan meleleh supaya cahayanya bisa menerangi sekitar, menerangi keluarga, tetangga dan masyarakat.
Orang yang ikhlas berqurban juga tidak akan dzolim terhadap dirinya sendiri. Artinya orang yang ikhlas akan berqurban dengan harta yang bagaus. Oleh karena itu pada ibadah qurban disyaratkan sesembelihan qurban yang bagus tidak cacat.
Tapi, perlu kita ketahui bahwa bukan kusur atau gemuknya qurban. Bukan pula daging atau darahnya yang diterima Allah. Tetapi yang diterima adalah taqwanya. Orang yang bertaqwa pasti akan mempersembahkan sesuatu yang paling bagus untuk Allah SWT.
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ
                                                                                                                                                                   
“Allah tidak menerima daging dan darah qurban. Tapi Allah menerima taqwa kalian semua.”


3.      Menghilangkan sifat Hewani
Qurban yang berupa menyembelih hewan bisa menjadi simbol buat yang berqurban. Yaitu menyembelih sifat-sifat hewan yang berada pada jiwa manusia. Hewan ini seperti kembing, sapi, unta mempunyai sifat yang apabila mencari makanan, rumput, atau tanaman-tanaman hijau tidak peduli itu milik siapa. Yang penting hijau, dimakan. Begitu juga manusia ada yang mempunyai sifat begitu. Tidak peduli dari mana asalnya rejeki. Tidak peduli itu haram atau halal. Terkadang ada juga ada yang mencari rejeki dengan menindas kawannya seperti hewan yang mendapat makanan tetapi tidak terima ketika ada hewan yang lain ikut makan.
Maka, dengan adanya ibadah qurban ini kita semua bisa membuang sifat-sifat hewan yang berada di jiwa kita. Apabila kita tidak membuang dan masih mempunyai sifat ini berarti kita sama seperti hewan atau bahkan lebih hina dari hewan.

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’rof. 179)


4.      Pendidikan Keluarga
Keluarga Nabi Ibrahim bisa menjadi simbol keluarga yang harmonis yang dilandasi cinta kepada Allah Swt. Keluarga yang dilandasi rasa cinta kepada Allah. Jika sesuatu sudah dilandasi dengan cinta kepada Allah segala hubungan bisa terjalin dengan harmonis dan baik. Seperti ceritanya Nabi ibrahim. Diriwayatkan Nabi Ibrahim mendapat perintah supaya mengajak istri dan putranya yang masih bayi ke lembah yang tandus, gersang, tidak ada tanaman juga sumber air. Tempat yang belum ada penghuni. Jauhnya dari tempat tinggal Nabi Ibrahim, Palestina ke Makkah kurang lebih 1600 KM. Nabi Ibrahim tidak mengerti apa yang dikehendaki Allah atas perintahnya tersebut. Nabi Ibrahim hanya ikhlas dan tawakkal menerima perintah tersebut. Ketika Nabi ibrahim akan meninggalkan Hajar dan Ismail, Hajar tanya kepada Ibrahim “Wahai Ibrahim. Anda akan pergi kemana? Anda akan meninggalkan saya dan Ismail disini juga tidak ada yang mencukupi kebutuhan kami?” Ibrahim tidak menjawab. Kemudian Hajar bertanya kembali, tapi Ibrahim tidak menjawab. Kemudian Hajar bertanya, “Apa Allah yang memerintahkan?” Ibrahim menjawab, “ Iya” kemudian Hajar berkata, “Apabila Allah yang memerintahkan pasti tidak akan menyia-nyiakan kita.”
Inilah gambaran istri yang taat kepada perintah suaminya walaupun perintah tersebut berat. Semuanya dengan dilandasi taat dan tawakkal kepada Allah Swt. Begitu juga ketika Allah memerintahkan Ibrahim supaya menyembelih Ismail, Ibrahim kelihatan sedih, susah. Karena, sebenarnya tidak ada orang tua yang tega menyembelih anaknya ata menelantarkan anaknya. Begitu juga Nabi Ibrahim tidak egois langsung menyembelih Ismail. Tapi dimusyawarahkan dulu dengan putranya. Dan putranya tidak membantah atau menolak. Hal ini berarti Ismail menjadi simbol anak yang sholih. Anak yang sholih akan selalu taat kepada orangtuanya.


فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢
Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (As—shofat:102)
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah

Apabila kita perhatikan dizaman sekarang ini banyak keluarga yang tidak harmonis disebabkan istri yang tidak taat kepada suami. Orang tua yang tega membuang bahkan membunuh bayinya. Orang tua yang terlalu sibuk sehingga tidak sempat mengurusi anaknya. Juga anak yang durhaka kepada orang tuanya.
Oleh karena itu di hari Idul Adha ini menjadi pelajaran kepada kita supaya membangun keluarga yang harmonis yang dilandasi cinta. Cinta kepada Allah dan cinta kepada keluarga

Kiranya cukup sekian khutbah yang bisa saya sampaikan. Kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ . بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Selasa, 15 September 2015

Pelepasan Jamaah Haji Kec. Kemusu

IPHI KEC.KEMUSU KAB. BOYOLALI  pada hari Selasa tgl 15 Sept 2015   pada waktu pukul 12.30.wib telah melepas dan pamit dari kelompok calon jamaah haji sejumlah enam calhaj. Adapun para jamaah calhaj tersebut berasal dari luar wilayah kec.kemusu. dari wilayah desa kendel 2 orang dan dari desa kauman empat orang. Masing masing calhaj tersebut suami istri. Perwakilan atas nama IPHI KEC.KEMUSU oleh KH NASRUDIN. Menyampaikan dalam sambutannya bahwa  untuk saat ini untuk animo calhaj di wilayah kemusu agak menurun di karenakan kesederhanaan dari warga . Dan juga berharap semoga para calhaj dapat melaksanakan haji di tanah suci dengan baik.

Pada kesempatan itu pula hadir dari unsur muspika kec.kemusu turut hadir Bp sekcam Agus purwanto, dari Koramil, dan juga dari unsur Kapolsek Kec. Kemusu yang secara langsung Bp Kapolsek Kec. Kemusu beliau Bp Arifin.

Dalam acara prosesi upacara pembukaan pemberangkatan calon haji tersebut sambutan dan penglepasan calhaj di buka dan di pimpin oleh Bp ARIFIN ( Kapolsek kec. Kemusu..). Dalam sambutannya tersebut beliau mengucapkan Rasa terimakasihnya kepada para calon haji semoga menjadi tamu Allah dan selamat dalam menunaikan ibadah haji dari pemberangkatan perjalanannya menuju makatul mukaromah selalu mendapatkan kelancaran kemudahan keselamatan dalam menunaikan rukun islam yang ke lima yaitu ibadah  haji. Dapat melaksanakan baik yang sunah maupun yang wajib. Baik rukun dan syaratnya ibadah haji. LABBAIK ALLAHUMMA LABAIK....


Diberdayakan oleh Blogger.